Rumah Kita

Alhamdulillah, tanggal 1 Desember kemarin tepat 5 tahun kita menempati rumah kita. Ya rumah kita sendiri, yang sampe sekarang masih dicicil sampe,,mmm beberapa tahun lagi..😀

Dulu setelah menikah tahun 2003, nyokap nyuruh gue dan suami agar tinggal di rumah nyokap. Kata nyokap daripada ngontrak buang-buang duit, mending tinggal bareng aja, nanti kalau uangnya udah cukup buat DP rumah sok silahkan pada minggat.

Setelah nikah mulailah kita hunting rumah. Setiap Sabtu Minggu kita keliling-keliling nyari rumah yang pas. Karena ortu gue tinggal di sekitaran Bintaro, otomatis gue sama suami juga mencari di sekitar itu, apalagi gue sejak tahun 1982 sudah tinggal di sekitaran Bintaro, otomatis hati ini udah gak bisa pindah ke lain hati daerah. Nyokap gue juga berpesan kalau mau cari rumah yang deket sama nyokap aja, biar gue atau ortu gampang buat nengokinnya, ok lah siap dilaksanakan. Dan pencarian pun di rumah.

Pencarian rumah kita susah-susah gampang. Awalnya kita pengen cari rumah second aja, tapi kalau yang di Bintaro sektor 1 sampai 8 sepertinya rumah second yang murah itu cuma mimpi. Karena lokasi rumahnya dekat dengan Jakarta, atau karena bangunannya besar-besar, otomatis harganya wassalam. Mau kita jual ginjal separo juga gak akan kebeli deh tuh rumah second. Akhirnya list rumah second kita coret.

Kemudian kita pun mulai mengunjungi pengembang terdekat. Tanya-tanya, eh ternyata pihak pengembang akan membuka cluster baru, setelah liat-liat peta lokasi, itung-itung DP dan cicilan, dan keliatannya bisa nyicil, langsung setor tanda jadi. Waktu itu perhitungan luas tanah dan harga masih dalam bentuk kasar. Sebulan kemudian kita ditelpon pihak pengembang, mereka kasih info kalau ternyata ada perubahan luas tanah. Karena posisi yang kita pilih adalah culdesac, waktu mereka melakukan pengukuran langsung di lapangan, ternyata ada kelebihan tanah yang kalau dibuat satu rumah lagi kekecilan, maka kita harus beli kelebihan tanah tersebut. Langsung kita tolak mentah-mentah. Uangnya mana cukup.

Untungnya pengembang cukup memahami, akhirnya mereka bilang kalau ada pembukaan cluster baru lagi kita akan dihubungi. Gak berapa lama kemudian ada pembukaan cluster lagi. Udah oke dengan hitung-hitungannya, ternyata kira-kira seminggu kemudian, tanah yang kita pilih luasnya salah hitung dan lebih kecil dari yang kita hitung sebelumnya. Sempet kesel juga ini mau jual rumah kok kayak begini banget, bisa berubah-ubah, tapi ya logis juga sih, karena saat itu yang mereka tawarkan baru dalam bentuk peta, ternyata pas dihitung-hitung di lokasinya jadi berubah. Kita berdua masih sabar menghadapi kenyataan ini. Dan pihak pengembang tetap janji kalau ada pembukaan cluster baru kita akan dihubungi lagi.

Gak lama ada pembukaan cluster baru lagi, yang sekarang jadi cluster rumah kita. Kita berdua udah berharap semoga kali ini yang terakhir bagi kita dalam rangka pencarian rumah kita. Gak tau kenapa, saat kita ke kantor buat liat peta cluster baru, agen ‘A’ yang biasa bantuin kita lagi gak ada. Jadi kita ketemu dengan agen ‘B’. Terus kita dikasih liat peta cluster tersebut. Tadinya gue pengen milih tanah yang posisi hook, langsung ditepok sama laki gue, ngebangunin gue dari mimpi, gila aja tanah di hook harganya pasti lebih mahal kakak. Akhirnya setelah liat posisi arah mata angin yang nantinya akan berpengaruh pada acara menjemur baju dan banyaknya angin, gue pun pilih salah satu rumah. Dan langsung bayar tanda jadi. Ternyata beberapa hari kemudian gue ditelpon agen ‘A’ yang sebelumnya nanganin kita. Saat itu dia langsung meminta maaf kalau rumah yang kita pilih itu ternyata sudah di booking orang lain. Ya ampuuuuunn…. langsung dong kita berdua komplein, gimana sih ini pengembang, bisa lalai begitu. Masak agen B gak tau kalau rumah itu udah di booking orang lain. Untungnya agen ‘A’ cepat tanggap dia udah ngebookingin kita beberapa rumah yang mau nggak mau harus kita pilih. Akhirnya setelah cap cip cup kita pun milih rumah yang sekarang kita tempati… Alhamdulillah.

Ternyata proses mendapatkan rumah kita masih harus terus berjuang. Setelah tanda jadi OK, kita mulai melakukan penyicilan Down Payment. DP bisa dicicil selama 6 kali setiap bulan. Dan setelah dilihat-lihat ternyata cicilan DP terakhir adalah pertengahan September 2005, kira-kira seminggu setelah kelahiran Aisyah. Saat itu gue berdoa semoga Aisyah bisa lahir normal, agar tidak ada pembengkakan biaya karena terpaksa harus operasi cecar. Sejujurnya, saat kita memutuskan beli rumah, kita berdua benar-benar nekat. Saat itu tabungan kita hanya cukup untuk pembayaran sampai DP ke-4. Untuk bulan ke-5 kita berusaha nabung dari hasil gaji kita berdua selama 5 bulan, sedangkan DP bulan ke-6 kita belom tau mau bayar pakai apa. *muka tegang*. Dan ternyata, karena sebulan menjelang lahiran, gue mutusin buat ngontrak *nanti gue ceritain juga kenapa*, udah gitu persiapan lahiran dan ini itu, otomatis, tabungan buat DP berkurang banyak. Dan saat itu hari Jum’at, gue dan suami, di kantor udah pada pusing mikirin gimana nih mau bayar DP ke-5 yang due datenya Senin besok. Mungkin udah jalannya, lagi duduk-duduk di kantor nungguin macet hari Jum’at, sambil mikir gimana bisa ngumpulin X juta dalam dua hari, tiba-tiba ada telp dari mertua gue. Beliau tiba-tiba nanya, ‘Ta, semalem kamu mimpi apa’. Gue bilang ‘lupa pak..’ saat itu pengen banget ngaku kalau kita lagi ada masalah keuangan, ah tapi gak usahlah. Dan si bapak bilang ‘kamu dapet arisan nih’, dan spontan gue menjawab ‘beneran pak? benaran? Alhamdulillah…’ Uang arisan yang gue dapet saat itu 12 juta kakak, sudah melebihi cicilan DP ke-5 saat itu. Ternyata Allah SWT masih memberi jalan, dan saat itu gue bertambah yakin, kalau memang keputusan nekat kita itu gak salah.

Belom selesai juga, untuk mendapatan rumah kita masih butuh berjuang. Pada saat cicilan DP ke-6 di bulan September kita masih harus diuji. Saat itu Alhamdulillah Aisyah lahir secara normal, tapi karena kepolosan gue sebagai ibu baru, akhirnya Aisyah harus diopname, yang kalau dihitung-hitung biayanya seperti operasi cesar. Nantilah gue akan ceritain kejadiannya. Akhirnya uang kita benar-benar gak cukup, lebih tepatnya gak ada duit buat bayar DP ke-6. Lima hari setelah melahirkan kita berduapun langsung datang ke pengembang. Masih dengan selangkangan sakit kalau jam 12 siang belom minum obat, gue paksain diri buat datang ke kantor pengembang bersama suami, saat itu Aisyah masih diopname di RS. Kita ceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa anak kita yang baru lahir terpaksa diopname, dan kita bener-bener gak punya uang buat bayar DP saat itu. Saat itu kita minta pertambahan waktu agar bisa membayar DP ke-6 sampai uang kita terkumpul dengan sanksi harus membayar biaya keterlambatan. Alhamdulillah setelah nega-nego, pihak pengembang intinya setuju dengan permohonan kita, dan kalau gak salah kita harus bisa melunasi DP ke-6 dalam tempo 3 bulan ke depan. Kebetulan juga saat itu di lokasi belum ada pembangunan rumah, kira-kira masih dalam tahap  persiapan infra struktur, jadi ketika kita meminta perpanjangan waktu mungkin bagi mereka tidak masalah.

 Alhamdulillah setalah Aisyah lahir rejeki anakpun segera mengalir. Suami dapat kerjaan baru, dan otomatis gaji baru dan yang lebih penting kami sekeluarga mendapat asuransi kesehatan yang lebih baik. Dan karena sebelumnya Aisyah harus diopname gara-gara kepolosan gue,  gue pun akhirnya memutuskan untuk berhenti kerja, syukurnya pas gue memutuskan akan berhenti kerja ternyata di kantor gue pas banget akan ada layoff karyawan, dan gue pun mendaftar sebagai pioneer. Alhamdulillah gue dapet pesangon yang lumayan, dan akhirnya cicilan DP ke-6 pun lunas.

Dan yang dinanti-nantipun tiba, bulan April 2006 kita akad kredit dengan Bank, dan Mei 2006 kita mulai melakukan cicilan KPR yang pertama, hingga saat ini. Dan akhirnya 1 Desember 2007 kita pun pindah dari rumah kontrakan ke rumah kita, ya rumah kita sendiri. Kita berdua selalu berdoa semoga selalu diberi kemudahan rejeki agar cicilan KPR bisa segera selesai. Ya Allah, lindungilah kami dari lilitan hutang..aamiin

Dan sekarang gue mau ngasih lagu yang selalu jadi penyemangat gue dan suami dalam rangka proses mendapatkan rumah kita. Setiap kita lagi mentok gimana cara bayar DP atau setiap udah bayar tanda jadi ternyata gak jadi atau kendala lainnya, kita berdua pasti langsung nyanyi lagu ini. Ini nih lagu nya… Gue ambil yang versi ini aja biar lebih berkesan ‘muda’ dibanding yang aslinya ya kakak.. Selamat menikmati..

4 thoughts on “Rumah Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s