Touring : Pangandaran dan Green Canyon

Prolog

Awalnya bermula September tahun lalu, kantor suami ngadain Family

Gathering ke Bandung, tujuan TranStudio. Acaranya sih cmua sehari aja, Sabtu, tapi bagi warga Jakarta kalau ke Bandung enggak nginep tuh rasanya kayak makan enggak pake minum, seret, maka suami dan beberapa teman-temannya memutuskan untuk menginap semalam di Bandung. Langsung mereka booked hotel di daerah Scapa – Setiabudi, Bandung.

Hari Minggu paginya, sekitar 8 kendaraan dengan berbagai merk beriringan menuju The Ranch, Pasar Terapung dan Tangjuban Prahu. Ternyata bagi beberapa orang-orang touring itu bikin nagih. Dan kemarin waktu liburan Imlek para bapak-bapak ini memutuskan untuk touring ke Pangandaran. Sebelumnya gue sempet ragu, secara lagi musim hujan, trus kok kita ke pantai, ntar kalo ada tsunami gimana? Apalagi sebelumnya Kebumen juga baru gempa, udah gitu kita pergi pas Imlek, biasanya kan kalo imlek identik dengan hujan, gimana mau jalan-jalan? Kata suami ya berdoa aja, semoga lancar, dan keliatannya bapak-bapak yang lain juga biasa aja. Oke deh dengan mengucap Bismilahirrohmanirrohim, kita pun berangkat.

Hari ke – 1, Kamis 30 Januari 2014

Suami berpesan kalau jam 11 Malam kita sudah harus jalan, mengingat Toll JOR di daerah Simatupang lagi rusak, dan juga di Toll Cipularang KM 72 lagi longsor. Jam 7 Malam suami baru pulang, makan terus tidur, sedangkan gue masih beres-beres.

Jam 11 kita lalu jalan dan janjian dengan teman yang lain di gerbang Toll Pondok Aren/Bintaro. Bener kan di Simatupang macet. Pantauan dari Google map sepanjang jalur Simatupang warnanya merah. Hujan juga bolak balik turun dan berenti. Kita lalu berhenti lagi di KM 56 dan sekalian ketemuan dengan teman-teman kantor suami yang lain. Total mobil yang ikut touring malam ini sebanyak 9 kendaraan. Di Toll menuju Bandung hujan juga bolak-balik muncul. Menjelang KM 72 jalanan mulai macet lancer. Malam itu diberlakukan contra flow dari arah Jakarta – Bandung. Jadi setengah lajur dari Bandung dipakai oleh kendaraan dari Jakarta. Alhamdulillah perjalanan lancar walaupun sampai Toll Cileunyi bolak-balik hujan.

Hari ke – 2, Jum’at 31 Januari 2014

Kita sampai di Nagrek sekitar jam 5. Berhenti untuk sholat shubuh. Kebtulan ada masjid besar di pinggir jalan, selain itu juga ada warung yang lumayan besar menjual makanan, minuman dan snack. Jam 6 kita melanjutkan perjalanan lagi. Sekitar jam 8 sudah banyak yang melapor kalau lapar. O iya kita berkomunikasi antar kendaraan via HT.  Cari-cari tempat yang sekiranya selain enak untuk makan, juga enak untuk istirahat. Di daerah Ciawi – Garut (bukan Bogor), kita berhenti untuk makan pagi di Saung Liwet Asep Stroberi. Menu yang disajikan berupa nasi liwet khas Sunda dengan lauk pauk ayam goreng, ikan peda goreng, tahu tempe lalapan sambal dan menu-menu lainnya. Kita pesan nasi liwet komplit untuk dua orang, minumannya jus stroberi untuk Aisyah, teh hangat manis untuk bapaknya dan air putih untuk emaknya (ngirit buuu.. engga kok..).

Selesai makan para bapak istirahat sebentar, langsung pada rebahan semua, udah kayak ikan lagi dijemur, kebetulan kita duduknya lesehan.  Nasi liwetnya enak dan banyak porsinya, lauk pauknya ya sama lah seperti RM yang lain, secara ayam dan ikan goreng pasti rasanya ya gitu-gitu aja kan?

Jam 10 langsung cabut. Jam 12 para bapak-bapak sholat Jum’at di daerah sekitar Banjar. Selama bapak-bapaknya sholat ibu-ibu ngetem di mobil masing-masing. Kotbah Jum’atnya memakai basa Sunda. Jam 13 lanjut lagi perjalanan menuju Pangandaran. Mendekati pantai Pangandaran kita harus melewati sebuah bukit dan tiba-tiba hujan deras. Tapi seteah hujan langit langsung cerah.

Setelah melewati 7 tanjakan dan 7 turunan, sampai deh kita di Pangandaran.

Pantai Barat dan pantai Timur itu bersebelahan loh. Sumber dari sini

Pantai Barat dan pantai Timur itu bersebelahan loh. Sumber dari sini

Kita menginap di hotel Pantai Indah Barat. Kamarnya luas, dan ada teras yang ujung-ujungnya dipakai untuk jemur baju juga.

tuh kan buat jemur baju

tuh kan buat jemur baju

Sampai di hotel kita dan beberapa orang teman suami dan keluarganya makan bakso abang-abang yang kebetulan mangkal di parkiran hotel. Setelah Ashar gue nemenin Aisyah berenang, lagi asik-asik berenang gue ngeliat beberapa orang teman suami dan keluarganya berjalan menuju pantai. Langsung dong gue nyuruh Aisyah selesai berenang, balik ke kamar bangunin bapaknya yang lagi tidur dan ngajak ke pantai. Pantai yang kebetulan dekat dengan posisi hotel kita adalah Pantai Barat. berjalan kurang lebih 100 meter sudah langsung pantai. Woww.. cakeppp…. sore itu ombaknya enggak terlalu besar dan langit agak berawan sedikit, jadi para bapak-bapak yang udah siap-siap dengan kameranya terpaksa gagal untuk foto sunset.

Pantai itu memang lebih enak pas sore, enggak panas :-D

Pantai itu memang lebih enak pas sore, enggak panas😀

Setelah puas basah-basahan di pantai, kita bertiga balik duluan ke hotel, yang lain masih main di Pantai. Sebelumnya kita sempet nonton para penduduk lokal yang lagi menjaring ikan. Ternyata setelah jaring di tarik, sampah yang terjaring lebih banyak dibanding ikannya. Sedih ya.. Orang-orang masih aja suka buang sampah sembarang.

Sampai di hotel Aisyah masih mau berenang di kolam renang lagi. OK deh. Setelah bersih-bersih badan dari pasir di shower, Aisyah dan bapaknya berenang lagi di kolam. Menjelang Maghrib kita udahan, lalu langsung bersih-bersih badan. Setelah itu mau cari makan malam.

Malam itu kita makan malam di pasar ikan di daerah Pantai Timur. Karena sedang liburan, pasar ikan ramai sekali. Di pasar ikan ada banyak kios-kios menjual aneka seafood. Malam itu kita pesan nasi putih, cumi asam pedas 3 ons, udang goreng mentega 3 ons, kerang putih asam pedas 0.5kg, ikan bakar dan cah kangkung plus pete satu papan buat pak suami, iiiyyyy. Minumnya lemon tea untuk bapak dan anak, dan air putih untuk ibunya. Karena posisi pasar ikan dekat banget dengan pantai Timur, maka saat kita berjalan langsung kedengaran suara ombak yang memecah batu dan gue tau deh kalo si Aisyah rada-rada takut.😀

Selesai makan kita semua balik ke hotel. Setelah sholat Isya langsung tidur dan bener-bener pules sampe pagi. Alhamdulillah selama pergi-pergi, kita bertiga enggak pernah nemuin masalah susah tidur di tempat baru. Pokoknya nyium bantal langsung deh masuk ke alam mimpi.

Hari ke – 3, Sabtu 1 Februari 2014

Hari ini kita akan ke Green Canyon (GC). Kurang lengkap rasanya kalau ke Pangandaran enggak mampir ke Green Canyon. Jam 9 kita semua sudah siap meluncur ke GC. Perjalanan ke GC dari hotel berdasarkan GPS kurang lebih 40 menit. Tapi karena kita iring-iringan apalagi ada yang mau wisata toilet atau wisata BBM, dan jalanan agak jelek, sampai di GC sekitar jam 10.

Sebelum kita jalan ke Pangandara suami udah bilang ke gue apakah nanti mau body rafting (BR) di GC. Saat itu gue bilang liat Aisyah dulu deh, kalau dia mau ikut gue ikut, kalau dia enggak mau ikut ya gue enggak ikut. Sebelum kita berangkat pak ketua rombongan nanya sekali lagi siapa yang mau ikutan. Kirain gue body rafting itu kita seperti rafting biasa, pakai perahu karet gitu loh, dan menurut gue enggak berbahaya lah, walaupun ada anak-anak ya bisa deh di duduk nyempil diantara kita. Karena kita juga enggak tau apakah anak-anak boleh ikut atau tidak, ya untuk sementara si Aisyah didaftarin juga. Kebetulan ada anak kecil lainnya sepantaran dia yang juga ikut. Rencana awal ada 17 orang yang ikutan. Empat orang pria dewasa, lima orang anak kecil, dan delapan orang wanita dewasa. Menurut info kita akan dapat giliran body rafting kedua seitar jam 12.

Sampai di sana kita konfirmasi ulang lagi ke EO yang ngadain body rafting. Menurut EO anak kecil tidak apa-apa ikutan body rafting, karena nanti kita akan ditemani oleh guide juga. Cuma masalahnya body rafting ini lama, sekitar empat jam. Akhirnya tiga orang anak kecil enggak jadi ikutan. Sedangkan teman-teman suami yang enggak ikutan body rafting akhirnya cuma naik perahu saja menyusuri sungai.

Jam 12 siang kita belum berangkat juga. Karena masih menunggu orang-orang sebelum kita yang masih body rafting sebelumnya. Akhirnya kita makan siang dulu dan sholat. Selesai makan dan sholat, sekitar jam 1 an rombongan BR yang pagi tiba. Setelah mereka melepas perlengkapan mereka, gantian kita yang pakai. Ada pelampung badan, helm, pelindung lutut dan kaki serta sendal gunung. Untuk anak-anak dipinjemin sepatu khusu naik gunung anak-anak. Setelah semua peserta memakai perlengkapan dan siap kita lalu berangkat menuju hulu sungai tempat dimulainya titik A untuk BR. Nanti dari titik A ini kita akan meluncur mengikuti aliran sungai Cijulang sampai di titik B. Dari titik B biasanya peserta banyak yang berenang atau melompat dari karang-karang yang ada di sana. Setelah itu dari titik B peserta akan naik perahu kembali lagi ke dermaga Ciseureuh. Untuk para pengunjung yang tidak mau ikutan BR dari titik A, mereka dapat menikmati Green Canyon dengan cara naik perahu motor dari dermaga Ciseureuh menuju titik B. Sampai di sana mereka bisa foto-foto atau kalau mau berenang juga bisa. Lalu bila sudah selesai pengunjung akan diantar lagi dengan perahu kembali ke dermaga Ciseureuh.

Dari dermaga Ciseureuh menuju titik A pertama-tama kita naik ke atas bukit dengan mobil bak terbuka. Lalu setelah sampai di posko yang letaknya di atas bukit kita turun dan jalan kaki menuju kaki bukit menuju titik A tempat dimulainya BR kita.

menuju titik A, masih ketawa-ketawa

menuju titik A, masih ketawa-ketawa

Pemandangan bagus ya..

Pemandangan bagus ya..

Bukit yang kita turunin lumayan jauh. Menjelang sampai di titik A mulai terdengar suara air mengalir, berarti sebentar lagi kita sampai di pinggir sungai, tapi kok suara sungainya kencang banget ya? pikir gue dalam hati.

Awalnya nih gue pikir kita bakal naek perahu karet kayak sedang rafting biasa, atau udah kebayang seperti cerita Pypy yang naik perahu karet ke Goa Pindul. Udah kebayang juga seperti yang gue liat di foto teman-teman atau di internet sungai Green Canyon yang airnya berwarna hijau toska dan tenang, terus orang bisa foto-foto sambil ketawa-ketawa, bisa berenang sambil gegayaan, lompat ke sungai dari karang yang tinggi. Pokoknya yang asik-asik deh, tenyata, aslinya malah kayak gini :

oOpps

oOpps

strees gak sih?

strees gak sih?

mamahhh...

mamahhh…

Lohh kok enggak ada perahunya? Bayangan kita bakal naek perahu karet kayak rafting biasa hilang sudah, ternyata memang body kita sendiri yang meluncur di air enggak pakai perahu karet, oon yeee #jedodin kepala. Dan kondisi diperparah dengan air di sungai sedang berwarna coklat dan arusnya deras karena memang saat itu kan sedang musim hujan. Air sungai yang biasanya tenang, dan dangkal saat ini naik hingga dua meter. Muka-muka tegangpun mulai bermunculan. Mau balik lagi juga enggak mungkin, karena kita adalah peserta terakhir BR hari itu dan juga karena mobil bak terbuka udah turun ke bawah setelah kita sampai, daann mau nelpon juga enggak bisa karena enggak ada sinyal! Lengkappp!

Sebelum kita turun ke air guide berpesan agar kita selalu berhati-hati, enggak misah-misah, dan tetap rendah hati, enggak boleh ngomel-ngomel, mengeluh, bicara kasar dan bicara kotor, karena kita sedang berada di alam. Ya memang sih kata suami gue, kalau kita mau belajar sabar atau mau liat aslinya seseorang maka pergilah ke alam bebas. Kalau kita enggak sabaran pasti kita akan banyak mengeluh  atau marah-marah karena capek atau tidak nyaman.  Manusia itu benar-benar kecil dibanding alam yang sangat luas ini.

Benar-benar petualangan yang menegangkan. Apalagi ada dua anak kecil dan satu orang ibu-ibu yang enggak bisa berenang dan langsung histeris takut tenggelam saat pertama kali nyemplung ke dalam air. Untung ada suaminya yang berusaha nenangin. Pokoknya selama BR ini suara tangisan bergantian deh. Tapi Alhamdulillah semua guide yang mendampingi kita benar-benar peduli menolong dan bertanggung jawab. Ada kalanya anak-anak terpaksa harus digendong kalau kita terpaksa harus menyeberangi batu-batuan yang di bawahnya ada arus yang deras.

Kadang kita harus meniti pinggir-pinggir sungai, atau terpaksa harus meluncur mengikuti arus dengan posisi terlentang berbaris bertiga. Rasanya luarrrr biasssaa… Udah enggak keitung berapa banyak air yang ketelen. Sepanjang perjalanan gue gak berenti berdoa dan pasrah sama Allah SWT. Berdoa semoga langit tetap cerah, enggak hujan dan kita semua selamat sampai di titik B.

Sewaktu dipertengahan jalan, salah satu guide bilang kalau nanti ada daerah yang tidak bisa kita lalui karena arusnya sangat deras. Satu-satunya cara kita harus menepi lalu naik ke atas tebing untuk bisa melewati arus tersebut. Setelah itu daerahnya sudah aman. Gue udah kebayang dong, Alhamdulillah kita naik ke atas tebing dengan kondisi yang sama seperti kita turun dari mobil bak terbuka tadi, lewat jalan tanah. Alhamdulillah enggak perlu naik turun batu-batuan lagi.

Ternyata gue salah pengertian lagi, ternyata yang dibilang kita akan naik, ternyata kita harus memanjat tebing batu tegak hampir 90 derajat. Masya Allah… Saat itu gue udah merasa capek, mulai menggigil karena airnya dingin banget dan udah sore. Guide juga terus menyemangati peserta dan selalu mengingatkan agar kita tetap berjalan tidak banyak istirahat agar sampai di titik B sebelum gelap.

Ya sudah mau tidak mau kita harus memanjat tebing batu setinggi rumah, dan subhanallah, ternyata batunya tidak licin! tadinya gue udah yang jiper ngebayangin kalau batunya licin secara air dari atas dinding itu mengucur seperti air hujan. Ternyata yang kita panjat itu adalah stalakmit. Pantesan aja struktur batunya beda dibanding batu-batu yang ada di dalam sungai atau di pinggir sungai.

Sampai di atas batu karang, kita harus berjalan meniti tebing sambil berpegangan pada tali, lalu kita harus menuruni tebing lagi, dan ini juga sama, posisi tebing yang kita turunin tegak hampir 90 derajat. Aisyah sudah nangis kejer. Tapi walaupun dia nangis kejer dia tetap berusaha memanjat tebing, meniti tebing sambil pegangan tali, dan menuruni tebing lagi dengan pengawalan ketat dari suami dan seorang guide. Aisyah yang dalam keadaan biasa enggak mau main-main yang agak-agak nyerempet bahaya, kini dengan ikhlas mau berusaha melewati rintangan yang menurut kita sebagai orang dewasa mengerikan. Sambil berlinangan air mata dia selesaikan semua itu. #peluk

Setelah menuruni batu 90 derajat, kita harus meluncur lagi menuju titik B mengikuti arus yang lumayan deras. Gue, suami, Aisyah dan satu orang giude yang selalu bersama kita meluncur bersama menuju titik B. Guide kita selama menemani kita meluncur di sungai enggak berhenti-henti bertakbir menyebut nama Allah SWT sampai akhirnya kita tiba di titik B. Alhamdulillah.

Alhamdulillah semua peserta BR kita sampai di titik B dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Lecet, baret, memar karena kepeleset  udah enggak dirasain. Kita semua bersyukur karena hari ini Allah SWT selalu menjaga kita semua. Petualangan yang enggak disangka. Dan memang adanya, selama kita BR, kita selalu diperlihatkan pemandangan alam yang luar biasa indah. Sayangnya saat itu kita kurang bisa menikmati karena keadaan.

Setelah sampai di titik B, kita masih harus menunggu perahu yang menjemput kita. Sambil menunggu perahu kita masih membahas tentang BR tadi. Alhamdulillah tadi ada tiga anak yang enggak jadi ikutan BR, karena rencananya ketiga anak itu tidak didapingi oleh orang tuanya, gileee… untunnnggg aja enggak jadi, gue aja yang bawa satu anak kecil aja udah stress gimana ntar kalau dititipin anak orang lagi?. Setelah perahu tiba, kita segera naik dan melanjutkan perjalanan ke dermaga Ciseureuh. Total perjalanan kita dari mulai dermaga Ciseureuh sampai balik lagi ke dermaga Ciseuereuh sekitar 5 jam.

selesai sudah petualangannya.

selesai sudah petualangannya.

Sampai di dermaga Ciseureuh kita segera melepaskan perlengkapan, lalu langsung makan malam. Makanan sudah disiapkan oleh panitia. Selesai makan kita berjalan lagi menuju parkiran. Saat itu sudah gelap, pengunjung juga sudah tidak ada. sampai di parkiran, kita ganti baju dan bersih-bersih sedikit di kamar mandi. Di perjalanan, para bapak-bapak masih membahas hal yang sama. Ibu-ibu dan anak-anak sempat ditanya apakah kalau musim kemarau mau kesini lagi? Jawaban sudah pasti dan sama ENGGAK MAUUUUU, walaupun diiming-iming kalau musim kemarau pasti lebih cantik dan arus juga aman, walaupun anak-anak yang tadi ikut BR diiming-imingin uang 2juta, tetep jawabannya ENGGAAAKK MAUUU.😀

Malam harinya setelah mandi dan sholat Aisyah langsung tidur. Sebelumnya kita minum minuman probiotik dulu, biar enggak sakit perut gara-gara abis nelen air sungai coklat. Setelah Aisyah tidur, gue dan suami malah yang enggak bisa tidur. Kita berdua duduk-duduk di teras, sambil membahas BR tadi. Membahas betapa bodohnya kita sebagai ortu yang sampai hati ngajak ke sana, walapun sebenarnya anak-anak sebenernya gak papa juga BR di GR, cuma ini bukan di musim hujan. Suami sampe ngomong kayak gini ‘gue enggak tau deh harus ngomong apa sama orang kalau terjadi apa-apa sama ini anak’. ‘Pengalaman ini serasa kita mendapatkan kesempatan hidup dua kali..’ Kedengerannya sedkit lebay, tapi ya emang gitu sih yang kita rasain saat itu.

Hari ke – 4, Minggu 2 Februari 2014

Pagi-pagi setelah bangun pagi langsung ngecek Aisyah, apakah ada badan yang sakit-sakit atau sakit perut gara-gara abis nelen air sungai. Alhamdulillah semua peserta BR kemarin sehat walafiat. Setelah bangun tidur kita bertiga memutuskan jalan-jalan ke Pantai Timur. Cuma  tinggal nyebrang hotel, jalan sedikit maka sampai deh kita di pantai Timur.

Pantai Timur di pagi hari

Pantai Timur di pagi hari

Bedanya pantai barat dengan pantai timur menurut orang hotel adalah, kalau pantai barat tidak diberi pembatas batu seperti pantai timur. Makanya waktu ada tsunami tahun 2006 korban jiwa di pantai barat sampai ratusan, sedangkan di pantai timur cuma satu orang.

Pagi itu sebenarnya ada teman suami yang mau jalan-jalan ke cagar alam yang letaknya tidak jauh dari hotel. Tapi pagi itu kita memutuskan untuk di hotel saja dan berenang. Sekitar jam 10 kita sudah  check out. Pagi itu udara sudah mulai mendung. Menurut petugas yang ada di mart, selama beberapa hari ini Pangandaran hujan terus, cuma dua hari yang lalu udara cerah, itu berarti pas bener dong waktu kita nginep di Pangandaran. Dan hari ini ternyata sudah mulai mendung lagi. Alhamdulillah kita bisa liburan dengan cuaca yang cerah.

Siang hari kita makan di RM Mergosari. Menunya masih sekitaran nasi timbel dan lauk pauknya. Selesai makan kita melanjutkan perjalanan lagi. Di daerah Rajapolah – Tasikmalaya, kita mampir dulu beli oleh-oleh. Setelah itu lanjut terus sampai akhirnya berhenti di KM 125 Bandung. Kita makan malan dan sholat. Lanjut lagi perjalanan ke Jakarta, malam itu macet dan hujan. Alhamdulillah di KM 72 sudah tidak ada contra flow. Di toll JOR kembali hujan deras menggempur kita, berkali-kali juga kita mengucap syukur selama touring kemarin cuaca cerah, semoga mendapat berkah.

Sampai di rumah sekitar jam 11 malam, bersih-bersih lalu tidur.

Walaupun semua peserta touring merasa capek, ngantuk dan lelah diperjalanan, tapi grup ini tetap akan melakukan touring lagi. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal’afiat dan selalu punya dana lebih untuk touring.😀

Sampai jumpa di touring selanjutnya… ^___________^

6 thoughts on “Touring : Pangandaran dan Green Canyon

  1. Ya ampunnn mba seremm bener pengalamannya.. Py kesana 2012 bulan november kalo ga salah. Waktu itu Pangandaran lagi gak terlalu sering hujannya, makanya dapet Green nya. Cantikkk banget sih emang klo gak coklat dan gak naik airnya.. Waktu itu saking tenangnya kami kudu berenang..haha😀

    Syukur banget yah mba bisa Ita, sekeluarga dan semua peserta touring bisa kembali pulang dengan selamat.

    • Oooo.. berarti kl kemarau airnya bener2 tenang ya? Iya sih mlh jadi capek ya krn harus berenang..
      Kesimpulannya kl lg hujan enaknya kita terlentang aja udah meluncur sendiri kebawa arus ya.. cuma jd enggak bisa nikmatin suasana krn was was mulu ‘di depan ada apa ya’😀

  2. Wuaaahhhh.., Aisyah hebat! Bentar… habis itu getok ibunya. Kamuh tegaaa, iiihhh!😆
    Sungguh, Ta. Aisyah keren banget, bisa ikutan BR begitu. Aku aja yg udah setua ini gak kepikir bakal berani… good job, Aisyah! *trus pelototin emaknya lagi*😆

    • Fittt.. kl tau tempatnya kyk gitu gw juga gak mau kalii menjerumuskan anak.. sepanjang BR gw selalu berdoa dan pasrah minta perlindungan Allah SWT.. Alhamdulillah semua selamat.. #pokoknya ogaahhh kesana lagi…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s